Tampilkan postingan dengan label Buku Baru Buku Laris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Baru Buku Laris. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2016

>> >> Ideas are CHEAP?

Image result for ideas are cheap
http://www.slideshare.net/marcopaglia/why-you-shouldnt-fall-in-love-with-every-idea

Saya menemukan banyak quotes, “Ideas are cheap, execution is worth millions” dan sepertinya memang harus sangat setuju. Karena Ideas without execution adalah muluk-muluk belaka, hatta sekedar mimpi. Nah masalahnya, banyak yang kemudian berhenti di ide kreatifnya. Bukan terus meng-claim kami adalah sekumpulan orang kreatif lho hohohohoho. Hanya sayang, saat zaman demikian canggihnya, terbuka untuk diakses siapa saja, dimana saja malah kita bagai mati di lumbung padi. Kan judulnya jadi ironis. Justru sekarang ini tidak sulit mencari eksekutor yang sangat baik dan punya ppengalaman yang bagus untuk mengerjakan atau dimintai saran tentang berbagai ide berkecamuk atau pun pada ranah sudah menjadi berbagai macam jenis pekerjaan, namun asli quote berbidang hijau diatas itu bener banget, ideas are cheap so why should we economize? Istilahnya kalau mimpi aja gratis, kenapa juga ga berani mimpi. Gitu kali ye Bro

Inovasi bisa dimana saja.
Disaat Tamana Baca Masyarakat (TBM) dihadirkan ada yang dibangun sekedar baik dan benar, sekedar memuaskan penguasa, sekedar menghabiskan dana project yang menjadikan arti sekedar pun jadi terasa lebih akut terdengar. 

Akan berbeda bilamana tempat seadanya, buku minimalis, pustakawan pas-pasan baik tampang, modal, perawakan dan wawasan namun mereka ga mau hanya sekedarnya saja, berjibaku untuk memberi konsep indah dan mewah dengan ide kreatif. Nah yang kek gini ini yang nantinya akan dieksekusi dengan bantuan gambar yang bagus dari "arsitek" TBM yang mumpuni.  Setidaknya TBM alakadarnya sudah punya track record yang baik. Tinggal yang dibutuhkan adalah menata konsep tadi supaya menjadi Taman Baca Masyarakat yang berbeda dengan lainnya namun dibutuhkan orang banyak. Tentu saja konsep TBM tak akan lari dari visi menumbuhkan minat baca dan memberi virus-virus untuk gila baca.... gila nge-blog juga ahahihihihi :D
Sehingga saat Dinas utamanya menghelat begitu banyak lomba inovasi internal yang digelar dengan biaya yang tidak sedikit,  konsep kreatif di TBM sudah dimainkan dengan antusias. Ada yang keroncong, ada yang milih bossanova, ada yang gaya rock n roll atau malah campursari dan dangdut. Lomba pun punya dampak yang benar-benar  berdampak dan tidak sekedar seremonial.
Dimanapun menurut saya TBM diperlukan ide kreatifnya baik untuk dirinya terlebih untuk masyarakatnya. Belajar tentang industri kreatif sedikit kita kupas ulasan dari trainer nasional Yoris Sebastian untuk Film Prenjak (iki sing werno biru di klik ae, kui ono link alias tautane yo Bro. Sing ora iso Jowo, googling ae yo Dab) yang baru-baru ini menang sebagai film pendek terbaik dalam “Critic’s Week Festival Film Cannes 2016” mungkin bisa membuka mata kita soal ide kreatif memang benar-benar penting. Kenapa?
Menurut Mas Yoris, kualitas eksekutor film Indonesia sudah bagus-bagus. Bahkan dari dulu, bukan sekarang saja sebenarnya Indonesia sudah tercatat di Festival Film Cannes waktu film Tjoet Nja’ Dhien arahan sutradara Eros Djarot lolos ikuti kompetisi film panjang dalam kategori Semaine de la Critique atau Critic’s Week tahun 1989.
Sutradara Garin Nugroho juga pernah meloloskan dua filmnya dalam kategori Un Certain Regard, satu kategori film-film independen terbaik dunia. Film Daun di Atas Bantal berkompetisi tahun 1998, kemudian Serambi tahun 2006 dalam kategori yang sama.
Sutradara muda Indonesia, Edwin, juga muncul tahun 2005 di Cannes lewat film Kara, Anak Sebatang Pohon. Edwin berkompetisi dalam kategori Quinzaine des Realisateurs atau Director’s Fortnight.
Semuanya menunjukkan kualitas yang luar biasa, namun belum menang. Lalu datanglah film Prenjak tahun ini yang justru paling sederhana menurut para juri. Namun di balik kesederhaan film ini, ide ceritanya begitu berbeda. Film ini bercerita tentang Diah (Rosa Sinegar) seorang gadis di sebuah desa, yang karena putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp.10.000 perbatang, untuk dinyalakan dan digunakan mengintip vaginanya.
Ideas are cheap karena sutradara dan penulis cerita Wregas Bhanuteja (millennials kelahiran tahun 1992)  tidak perlu bayar mahal untuk ide kreatif yang dia pikirkan sendiri. Namun ide kreatif menjadi mahal untuk mereka yang tidak juga berhasil mendapatkannya. Kita jadi tersadar bahwa ide itu mahal saat Prenjak menang di Cannes dengan keserdehanaan film namun sangat kuat di ide cerita dan metafora-metafora yang tidak pernah dibayangkan juri-juri Eropa di Cannes.
Kemenangan Prenjak bukan didukung oleh kamera terbaru di dunia perfilman ataupun berbagai biaya eksukusi tinggi lainnya. Prenjak menang karena ide yang kuat dan dieksekusi dengan baik dengan peralatan yang ada saja. Eksekusi harus baik, itu tidak dipungkiri namun menurut Mas Yoris eksekusi dengan sangat maksimal sesuai dengan kapasitas kita masing-masing saja.
Film Prenjak harusnya menyadarkan kita semua bahwa kekuatan ide dan penulisan naskah yang sebenarnya ada di manusia sehingga tidak memerlukan biaya besar ini yang harusnya bisa jadi inspirasi di bisnis apapun yang kita lakukan, apalagi di ranah social entrepreneur macam Taman Baca Masyarakat (TBM). bahwa local wisdom dan local heritage kita sebenarnya punya peluang membawa kita ke tingkat dunia. Dan film Prenjak lagi-lagi membuktikan statement tersebut. Yuk TBM'ers Jogja, rebut peluang tersebut…!!!

Kamis, 01 September 2016

Cak Nun

Koleksi TBM Rumah Asa. Pic by Martha 
Pagi Lurs. Pakdhe Budhe sehat sedoyo? Paklik Bulik sampun makaryo? Monggo monggo semangat semua, mencari sesuap nasi sesendok berlian dan sekeranjang mutu manikam hehehehe. 


Rumah Asa Jogja  juga sudah buka pintu depan lebar-lebar, yah tentu selebar ukuran pintunya dong, mosok nggih melar hahaha. Lini kreatifnya juga sudah dikunjungi salah satu pembaca dari Siluk Jl. Imogiri Barat yang ngepol pucuk, nyaris perbatasan Gunung Kidul, tadi 06.35 WIB. Ibu Ririn Suharyati namanya, memang pembaca setia plus ambil pesenan customernya, gamis Asakura Rumah Asa. 

Lha kaget juga, kami berdua lagi ngopi dan baca buku Cak Nun yang baru-baru, kinyis-kinyis ngebak-ngebaki rak buku yang sudah untel-untelan dengan 17.000 judul buku yang lain. Yo wish band lah, iki band ngendi neh hehe.

Memang Cak Nun ini setia menemani pengurus dan member Baca TBM Rumah Asa, ada banyak quotes menarik dari koleksi buku yang lamaMarkesot Bertutur. Berikut yang bisa kita nikmati sekaligus kawan-kawan bisa juga menuju link keren quotes berikut di bawah ini.
  • jiwanya seniman itu bagaikan ruang kosong, tak ada lemari atau kotak-kotak yang bisa dipakai untuk menyembunyikan sesuatu, segalanya tampak jelas dan jujur di mata #CakNun
  • Anda tak bisa menghakimi ekspresi seseorang hanya dengan melihat bunyi kata-katanya, melainkan Anda harus perhatikan nadanya, nuansanya, letak masalahnya #CakNun
  • politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya #CakNun
  • orangtua kita mengajarkan suatu nilai yang membedakan dua jenis anak, yang patuh tanpa reserve, yang pejah gesang nderek (hidup-mati ikut), disebut "anak baik-baik", sedangkan yang mencoba rasional, memilih otoritasnya, meskipun itu justru sejalan dengan "lorong keadilan" disebut "anak nakal" 
  • aneh : hukum negara bertabrakan dengan hak dasar kemanusiaan, dan keduanya telah tiba pada kondisi purik (saling membenci) yang susah disembuhkan. Tetapi, jalan terang tetap terlihat, setidak-tidaknya di cakrawala pandangan setiap orang yang tak mengenal putus asa 
  • bukanlah hidup kalau sekadar untuk mencari makan, bukankah sambil bekerja seseorang bisa merenungkan suatu hal, bisa berzikir dengan ucapan yang sesuai dengan tahap penghayatan atau kebutuhan hidupnya, bisa mengamati macam-macam manusia, bisa belajar kepada sebegitu banyak peristiwa... Bisa menemukan hikmah-hikmah, pelajaran dan kearifan yang membuat hidupnya semakin maju dan baik #CakNun
  • dalam pengadilan di Indonesia, kadang kita harus memilih alternatif yang terbaik di antara yang terkutuk, dengan menyisakan sedikit harapan bahwa hati nurani manusia tidak semuanya terdiri atas buku#CakNun
  • manusia jangan menunggu hancur dulu baru insaf #CakNun
  • kearifan-kearifan agama harus diterjemahkan ke dalam sistem nilai pengelolaan sejarah, kebudayaan dan peradabannya #CakNun
  • kreatifitas berpikir orang Barat harus kita tiru,tapi ekses dari kebudayaan teknologis yang terlalumemanjakan kebinatangan, sebaiknya kita cegah sejak sekarang.Setiap badan perencanaan pembangunan harus melibatkan para agamawan, budayawan, negarawan, filosof, seniman,orang-orang kecil awam yang arif.... Kita jangan hanya dipimpin oleh tender-tender 
  • peraturan dan undang-undang tidak slalu sama dengan keadilan, ia bahkan bisa saja bertentangan denganprinsip keadilan. Undang-undang memiliki relativitasnya sendiri dan tidak mutlak sebagaimana firman Tuhan #CakNun
  • hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui, bukan buku-buku yang kita baca atau kalimat-kalimat yang kita pidatokan, melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa dan inti kehidupan kita #CakNun
  • menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian
  • perjuangan ialah perjuangan. Sejarah dan Tuhan tidak mencatat kemenangan atau kekalahan, tetapi yang dicatat adalah perjuangan itu sendiri #CakNun
  • kebersihan luas makananya, kebersihan ruang dan kampung hanyalah satu hal, hal lain adalah kebersihan jiwa manusia itu sendiri, kebersihan pergaulan antarmanusia, baikpergaulan sosial, pergaulan ekonomi, pergaulan politik dan hukum #CakNun
  • yang menguasai dunia adalah ketelamjuran sistem-sistem internasional yang merupakan lingkaran setan yang memenjarakan manusia, terutama orang-orang kecil. Apalagi sistem-sistem besar itu tidak sungguh-sungguh untuk manusia dan kemanusiaan, tetapi untuk mitos-mitos yang bernama kemajuan, modernisasi, metropolitanisasi, yang keseluruhannya menjebak manusia dalam ketersesatan filosofi, keterjerembaban politik dan ekonomi serta kebuntuan budaya#CakNun
  • ada yang bilang negeri ini "negeri selembar kertas", masyarakat kita "masyarakat selembar ijazah". silahkan ngomel sistem pendidikan kita tidak bermutu, kesempatan berpendidikan tidak paralel dengan kesempatan memperoleh kerja, atau  canangkan proyek deschooling society (masyarakat tanpa sekolah), tapi pokoknya kalau ndak punya ijazah ya nasibnya lebih ndlahom (idiot, goblok, otak tak berisi) dibanding dengan yang punya ijazah #CakNun
  •  demokrasi itu penuh ironi dan ranjau kalau manusia tak menguasai manajemen untuk menggunakannya, demokrasi hanya bisa menjawab beberapa problem hidup, tapi problem yang lain membutuhkan nilai yang lebih tinggi daripada demokrasi #CakNun
  • orang boleh salah, agar dengan demikian ia berpeluang menemukan kebenaran dengan proses autentiknya sendiri #CakNun
  •  kalau kita jadi negara industri tidak berarti bahwa segalanya akan beres, tak berarti kita akan terbebas dari kemiskinan, kebodohan atau kekejaman kekuasaan. Industri hanyalah sebuah cara di antara kemungkinan cara-cara lain yang dianggap bisa membantu menyejahterakan masyarakat 
  •  kematian terkadang merupakan kritik terhadap kehidupan, Tuhan mengambil nyawa seseorang tak semata dalam rangka menyayangi orang itu tapi juga sekaligus memberi peringatan kepada semua yang ditinggalkan oleh almarhum #CakNun
  • bukan agama kalau turun ke bumi hanya untuk pandai memerintah dan melarang. Sebelum Adam dilarang makan buah khuldi, dia diberi pelajaran terlebih dahulu mengenai “nama benda-benda”, mengenai segala yang mesti diketahuinya dalam kehidupan #CakNun
  • agama diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri dan alam, menata sejarah, kebudayaan, politik .... Tuhan mengajarkan kreatifitas terlebih dahulu  #CakNun
  • agama mengajarkan kepada manusia bagaimana menumbuhka iman, menyusun pola-pola pembangunan suatu negeri, mengatur politik dan ekonomi, termasuk juga mengintensifkan bidang-bidang pendidikan pada level mana pun sedemikian rupa sehingga sedikit peluang bagi anggota masyarakat untuk mengalami kekecewaan sosial ekonomi serta kebingungan psikologis #CakNun
  • dunia ini masih dipimpin oleh orang yang lebih memilih kenyang meskipun dijadikan budak daripada lapar tapi bertahan harga dirinya#CakNun
  • apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah? Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga ia makin sanggup memahami orang lain? #CakNun
  • kalau para mahasiswa bercita-cita hendak menjadi pemimpin bangsa, sejak sekarang harus berlatih menampung bermacam-macam gejala manusia, di dalam pergaulan mereka tidak boleh memakai kerangka “menang-kalah” apalagi memakai interes egonya belaka, melainkan mempertimbangkan kepentingan bersama, dan untuk itu diperlukan kesabaran dan kearifan terhadap berbagai kemungkinan yang muncul dari “rakyat” mereka, tidak boleh gemedhĂ© (merasa paling pintar, sombong)  #CakNun
  • secara filosofis, sesungguhnya tak ada “orang besar” dan tak ada “orang kecil” dalam takaran pemilikan ekonomi atau perbedaan status sosial budaya. Kecil dan besar hanya terjadi pada kualitas kepribadian#CakNun
  •  hidup ini sangat luas dan dimensi-dimensi persoalannya tak terhingga, untuk itu diperlukan bukan sekadar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap luhur yang konsisten dari hari ke hari #CakNun
  • orang boleh kaya raya, persoalannya bagaimana kekayaan itu diperoleh, kemudian bagaimana sikapnya terhadap kekayaan tersebut. Juga kalau miskin! #CakNun
  • kalau seseorang bersikap kreatif untuk menemukan apa saja hal baik yang bisa dikerjakan dalam hidup ini, jam-jamnya tidak akan sempat ia gunakan untuk sedih atau meratap, sebab sudah habis untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik #CakNun
  • keceriaan dan kenyamanan hidup tidak terlalu bergantung pada hal-hal di luar manusia melainkan bergantung pada kekayaan batin di dalam diri manusia #CakNun
  • “Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan melainkan kekayaan, yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran melainkan kenyamanan, dan pada posisi seperti itu kalian selalu merasa lebih tinggi derajat dibanding orang kecil. Coba hitunglah kehidupan di sekitarmu, hitung pula dirimu sendiri, temukan kemuliaan di sekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan, amatilah mana orang yang luhur dan mana yang hina, mana yang derajatnya tinggi dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran” #CakNun
  •  “Kamu harus membedakan konteks perbedaan pendapat dalam politik dengan pergaulan kemanusiaan. Jangan menganggap pejabat pasti jelek dan rakyat biasa pasti baik, pandangan seperti itu tidak adil, ada urusan dan konteksnya sendiri-sendiri”  #CakNun
  • manusia harus jernih memandang dan menilai sesuatu, boleh pakai cara pandang kelas, boleh agak hitam-putih tentang masalah tertentu, tapi harus selalu dikembalikan pada kerangka pandang yang lebih universal, yang melihat manusia sebagai suatu keutuhan, yang memiliki kelebihan dan kekurangan, benar sekaligus salah #CakNun
  • kata ahli pedang, ilmu pedang tertinggi adalah kalau sudah bisa membelah kapas yang melayang-layang tanpa mengubah arah gerak kapas itu. Aneh, ujian tertinggi bagi keahlian pedang bukanlah baja atau batu karang melainkan kapas. Kekerasan yang telah mencapai puncaknya berubah menjadi kelembutan, kelembutan tak bisa dikalahkan oleh kekerasan #CakNun
  • kalau seseorang menjadi pemimpin, ia tak sekadar memimpin masyarakat manusia, tapi juga memimpin masyarakat makhluk yang luas, ia memimpin hak-hak binatang, hutan, lautan, barang tambang .... di situlah antara lain terletak kesalahan ideologi pembangunan modern yang merusak alam, bahkan merusak manusia #CakNun
  • yang penting bukan apakah kita menang ataukalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang 
  • kebanyakan orang tak bisa tidur, mereka hanya tertidur, karena sepanjang siang dan malam hari mereka diberati oleh dunia #CakNun
  •  “Kamu punya ruang dalam hatimu untuk merasakan hati parambambung (gelandangan), sehingga hatimu sedih, getir, terimpit seribu gunung, sementara orang-orang pandai sibuk dengan program-program dan omong besar di koran-koran. Tuhan tidak bertanya padamu apakah kamu mampu menolong mbambung atau tidak, tapi melihat apakah kamu mencintai orang lemah atau tidak”  #CakNun
  • manusia diberi-Nya kesanggupan untuk beradaptasi terhadap bermacam situasi, manusia dikasih-Nya darah, naluri dan kecerdasan agar ia tetap saja mampu menyelenggarakan kebahagiaan, meskipun dengan suku cadang yang terendah nilainya ia bisa menghasilkan ramuan kebahagiaan yang jauh melebihi taraf kebahagiaan yang dirajut dengan kemewahan  #CakNun
  • para pekerja agama tidak mengantarkan hakikat Tuhan sebagai Mahasubjek yang penuh rasa cinta, rasa sayang dan kesediaan tanpa batas untuk membahagiakan manusia  #CakNun
  • Tuhan banyak diperkenalkan oleh pemimpin-pemimpin agama sebagai “algojo” yang kejam, “polisi” yang selalu curiga atau “hantu” yang kehadirannya di hati manusia selalu menimbulkan rasa waswas, cemas, ngeri dan penuh ancaman. Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai tukang cambuk, pendera dan satpam yang otoriter  #CakNun
  • anak-anak muda tak bisa hanya menggantungkan diri akan jadi pegawai negeri, pembengkakan populasi penduduk akan makin berbanding terbalik dengan penyediaan lapangan kerja, jadi yang akan tegak hidupnya adalah orang-orang yang bermental wiraswasta, yang tidak priyayi, yang ulet dan bersedia bekerja keras #CakNun

Sepatu Rajut Super Kiyut Datangkan Untung Keceh

Malam Bun, dah pada bobo nih. Aih aih yang Bapak yang Kangmas juga boleh nyimak kok. Ceritanya tetangga TBM Rumah Asa Jogja ada yang ahli dalam membuat rajutan. Awalnya kerajinan rajut ini diterapkan pada baju, tas, dan slayer yang tentu kita sudah cukup biasa melihatnya dipakai para model, artis, pejabat dan bahkan kawan kolega kita. 

Namun rajut untuk sepatu, barangkali Anda baru mendengarnya. Beberapa waktu lalu kami menemukan berita tentang Ibu-ibu di Kota Blitar mengisi waktu luang untuk membuat sepatu rajut, yang mampu menembus pasar berbagai daerah di Indonesia. Kelompok ibu ini memadukan seni merajut dengan sol sepatu untuk membuat sepatu rajut bayi sampai sepatu berukuran dewasa. Baik yang trepes, higheels, wedges hingga sepatu bot. WOW kan?

Aktivitas beberapa ibu ini tepatnya berlokasi di Perumahan Pakunden Kelurahan Tanjungsari Kecamatan Sukorejo Kota Blitar.  Untuk membuat sepatu rajut ini, memerlukan keahlian khusus serta ketelatenan yang tinggi. Benang-benang beraneka warna dianyam dengan hak pen, untuk membentuk pola dan ukuran, lalu dijadikan bahan sepatu rajutnya.

Terinspirasi hal tersebut Bu Adel pun mengembangkan kerajinan tangannya ke arah sana. Tak dinyana, undangan pameran pun mengikutinya untuk menambah kenalan sekaligus promosi dagangannya. Menurutnya, mahasiswi dan wanita karier meminati sepatu rajut karena terlihat simple dan nyaman dipakai sehari-hari. Harga sepatu rajut dengan berbagai warna pilihan dibanderol Rp 180 ribu per pasang, sedangkan untuk anak-anak harga yang ditawarkan berdasarkan ukuran mulai Rp 80 ribu- Rp 100 ribu per pasang.

Kebetulan Rumah Asa Joga lagi gayeng-gayengnya berlatih photography android dengan minibox studio. Eh, karena Beliau sibuk merajut, minta kerjasama untuk difotoin produknya. Asyik kan. Mata jadi hidup lihat yang indah-indah ini. Senengnya lagi, lini kreatif kami Asakura, diminta ikut jadi sellernya Bapak Ibu sekalian. Di tolak? Enggak lah yaw.... untungnya yummy yummy yummmyyyyyy. Mana langsung posting juga ramenya luar biasa.

Monggo bisa klik di Sepatu Rajut. Tentu hasil keuntungan yang masuk kita sisihkan untuk membeli bahan bacaan baru dan operasional. Semoga juga kelarisan kitanya ya. Mohon doa semuanya :D

InsyaAllah lepas Lebaran Haji kita gelar lagi Photography Android Workshop 2. InsyaAllah selalu gratis pelatihannya. Jangan lupa bawa dan siapin potluck ya.

Info Buku Baru Buku Laris bisa WA 082135712958 atau PIN  D03C8881

Rabu, 31 Agustus 2016

.:: GAJAH ACEH yang AGUNG ::.


Rihlah Ibnu Batutah
Sebelum Kesultanan Aceh berdiri, kerajaan-kerajaan di utara Pulau Sumatra telah menjadikan gajah sebagai bagian tak terpisahkan dari kerajaan.

Menurut M. Junus Djamil, seorang raja di Pidie memilih gajah sebagai tunganggannya.
"Dalam tahun 500 masehi didapati kerajaan yang bernama Poli, yaitu Pidie sekarang, rakyatnya beragama Buddha, rajanya mengendarai gajah," tulis Djamil dalam Gadjah Putih Iskandar Muda Sultan Perlak pada 1146 juga gemar mengendarai gajah berhias emas.

Dalam Rihlah Ibnu Batutah, Ibnu Batutah memberikan deskripsi lebih lengkap mengenai gajah Samudra Pasai pada 1345. Selain dimiliki Raja, gajah-gajah itu uga menjadi bagian armada perang kerajaan. Jumlahnya 300 gajah. Meski untuk berperang, gajah-gajah itu tetap dihias. Menurutnya, kekuatan dan kemegahan armada Gajah Samudra Pasai hanya bisa disaingi oleh Kerajaan Delhi (India).

Sementara Marcopolo menyebut Samudra Pasai sebagai kerajaan yang mempunyai banyak gajah, dan sebagian besar kepunyaan raja. Sultan-sultan Aceh masa itu tersohor sebagai penunggang gajah yang mahir. Kecakapan menunggang gajah dianggap salah satu simbol keagungan sultan. 

Iskandar Muda, calon sultan, akrab dengan gajah sejak kecil. Indra Jaya,seekor anak gajah, menjadi teman bermain Iskandar Muda kecil. Kakeknya,Sultan Alau’ddin Riayat Syah, memberikan gajah itu saat Iskandar berumur 5 tahun. Sultan muda itu berlatih menunggang gajah tiap Senin dan Kamis. Sultan muda itu meneruskan tradisi kemahiran sultan Aceh dalam menunggangi gajah. Saya berkendara ke istananya dengan seekor gajah," tulis Davies dalam "Kunjungan Pertama Belanda Berakhir Buruk", 1599 John Davies, navigator Inggris,yg tersohor itu.

Augustin de Beaulieu, pedagang Prancis, menyaksikan bagaimana Aceh merupakan panggung teater besar para gajah. Pada 1621 dia menyebut Aceh memiliki 900 ekor gajah. Karena melimpahnya armada gajah, Aceh tak memerlukan benteng kota.

Peter Mundy, pelancong Inggris. Meski hanya mengunjungi Aceh selama 10 hari, dia melihat upacara besar yang menyertakan banyak gajah pada 1637.

Dia mendeskripsikan dengan sangat jelas upacara yang digelar saat perayaan
Idul Adha. Upacara itu dihadiri khalayak termasuk orang asing. Sultan mengundang semua rakyat hadir, dari jelata hingga bangsawan.

Dalam masa damai, gajah menjadi bagian integral dalam prosesi itu sebagaimana tertuang dalam kitab Adat Aceh. Pada masa Sultanah Safiatuddin (1641-1675), kepemilikan gajah tak terbatas lagi pada sultan. Orang kaya boleh memilikinya. Seiring meredupnya Kesultanan Aceh, gajah tak lagi menempati posisi penting dalam upacara keagamaan atau armada perang.Kini gajah Aceh tinggal kenangan.