Tampilkan postingan dengan label TBM Rumah Asa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TBM Rumah Asa. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Agustus 2017

DASTER ITU NGANU

Tanyakan pada si kecil, betapa nyaman dan tentram hatinya melihat si Emak memakai pakaian rumahan yang membuatnya selalu pengen nemplok. Atau kita coba, saat sore mulai singgah, sehabis mandi dengan aroma mint atau sabun buah, si Emak buka lemari dan memilih gamis cantik berikut kerudungnya. Tetiba, wawancara ramai pun dimulai, satu persatu anak mulai heboh, "Maaak ikut, Mak"
"Maaakkkk, mau kemana?" sambil ikutan keliling rumah, manyun, pegang baju si Emak untuk sekedar mencuri perhatiannya. Ga jauh-jauh juga kok, anak mertua juga bakal nanyain, " Ayang Bebeb mau kemana nih, arisan, PKK?

Tapi begitu keluar kamar mandi, si emak pakai daster kesayangan, ga ada yang khawatir Emaknya bepergian, rumah anteng. Tuh kan daster itu emang nganu.

Foto Bakul Daster.
Contoh daster modis masakini
Gimana coba, daster adalah seragamnya Emak-Emak dari Sabang sampai Merauke, bahannya halus, silir, apalagi sekarang modelnya cantik, modis dan bisa dipakai dalam berbagai kegiatan yang inspiratif :
1. Tidur
2. Masak
3. Nonton Tipi
4. Pesbukan
5. Ngisi Kulwap
6. Telpon-telponan ama buyer
7. Umbah-umbah
8. Asah-asah
9. Momong
10. Nulis Buku
11. Ngompol (Ngomongin Politik)
12. Ngecekin Admin
13. Dehem-dehem
14. Indehoy
15. Biar anti mainstream, bisa buat seragam mantu hehehe, ngirit

Bentuk juga nyaman banget, dibuat jonjing, cingkrang, ngatung tidak sampai klangsrah nyapu trotoar. Lengannya juga tak kepanjangan, bisa dilingkis, digulung sampai siku, atau malah ada yang model kelelawar bak ksatria power rangers. Makin spektakuler bila dibiarkan makin mbladhus, suwek, sembret. Daster emang nganu, contohnya teman saya yang dosen dan sedang S3 itu saya pikir awalnya di rumah juga blazeran. Ternyata sama dengan Emak lainnya, dasternya bolong-bolong kecil kena minyak saat nggoreng rengginang. Kawan yang juga dokter, kadang saya bayangin tidurnya pakai jas mantel putih, kupingnya di bunteti stetoskop, jebulnya pas meriksa saya juga pakai daster, "Halah Jeng, di rumah aja kok ribet." Wallahhh. Kali karena waktu itu saya sedang memeriksakan kutil di telapak kaki.

Foto Bakul Daster.

Nah jiika kita pernah atau bahkan sering mendengar ada tausiyah pada pernikahan, biasanya diingatkan hal-hal ini, "Istri kalau pakai gamis bagus jangan saat resepsi, hajatan, kondangan saja, mana dandanannya heboh kaya mau main ludruk." terus disambung gini ... " giliran sampai di rumah, ganti  daster, belom lagi dasternya bolong-bolong dan rambut awut-awutan, bau minyak parem, mana ada suami betah dirumah. Mending suaminya pergi ngangkring pinggir jalan."

Hiks, kenapa daster, sungguh semakin lawas itu semakin nganu dan menimbulkan nganu. Jadi membayangkan andai saja kalo dirumah pakai baju kondangan dengan dandanan lengkap, takut dikira kena demam Singapore. Kemudian suami  juga memakai baju kerja yang bagus bin wangi, celana denim baju safari bertopi pula aaaarrrrrrggghhhh. Jadi sebenarnya sih bukan karena dasternya kan. Lebih kepada pemakainya. Lebay ah... insyaAllah bukan maksud taujihnya membully Daster sih, tapi betapa pentingnya penampilan di rumah untuk menghangatkan kisah cinta suami istri amboiiii.

Meski kita pakai daster, tetep bisa wangi dan eye catching kok. Di rawat sebagaimana baju lainnya, di cuci, beri pewangi srat sret srot, setrika necis, ahai tetep enak di pandang. Apalagi kalau dasternya bentuknya payung, bertali satu pun jadinya tetep semlohoi. Coba tengok lapak Bakul Daster penggemarnya banyak, modelnya apik, pas dikocek istri, apalagi dikantong suami ehem-ehem. Mbok yakin, kalau suami sudah mengerti harga daster dan kenyamanan yang didapat, bakal beli sekodi tiap bulan hehehehe.

Sementara kemantapan pemakaian daster berlangsung, survey para ahli pun menyatakan jika pasangan hidup itu akan lebih merasa nyaman, saat dia disambut dengan wajah berseri-seri istrinya, tulus dari dalam hati, ramah dan menenangkan. Peduli meski hanya bertanya pada hal-hal standar, "bagaimana harimu, pekerjaanmu", sejenak berdua bercerita ringan, genggam tangan pasangan atau malah pijat-pijat mesra ... pokoknya ihukkkkk tenan. Jangan lupa dasternya dipakai Mak. Jadi tahu kan kalau daster itu nganu ...

Hidup daster!!! Pengen tahu warna-warni daster mangstabbb bisa meluncur ke Bakul Daster Recommended

Senin, 05 September 2016

>> >> Ideas are CHEAP?

Image result for ideas are cheap
http://www.slideshare.net/marcopaglia/why-you-shouldnt-fall-in-love-with-every-idea

Saya menemukan banyak quotes, “Ideas are cheap, execution is worth millions” dan sepertinya memang harus sangat setuju. Karena Ideas without execution adalah muluk-muluk belaka, hatta sekedar mimpi. Nah masalahnya, banyak yang kemudian berhenti di ide kreatifnya. Bukan terus meng-claim kami adalah sekumpulan orang kreatif lho hohohohoho. Hanya sayang, saat zaman demikian canggihnya, terbuka untuk diakses siapa saja, dimana saja malah kita bagai mati di lumbung padi. Kan judulnya jadi ironis. Justru sekarang ini tidak sulit mencari eksekutor yang sangat baik dan punya ppengalaman yang bagus untuk mengerjakan atau dimintai saran tentang berbagai ide berkecamuk atau pun pada ranah sudah menjadi berbagai macam jenis pekerjaan, namun asli quote berbidang hijau diatas itu bener banget, ideas are cheap so why should we economize? Istilahnya kalau mimpi aja gratis, kenapa juga ga berani mimpi. Gitu kali ye Bro

Inovasi bisa dimana saja.
Disaat Tamana Baca Masyarakat (TBM) dihadirkan ada yang dibangun sekedar baik dan benar, sekedar memuaskan penguasa, sekedar menghabiskan dana project yang menjadikan arti sekedar pun jadi terasa lebih akut terdengar. 

Akan berbeda bilamana tempat seadanya, buku minimalis, pustakawan pas-pasan baik tampang, modal, perawakan dan wawasan namun mereka ga mau hanya sekedarnya saja, berjibaku untuk memberi konsep indah dan mewah dengan ide kreatif. Nah yang kek gini ini yang nantinya akan dieksekusi dengan bantuan gambar yang bagus dari "arsitek" TBM yang mumpuni.  Setidaknya TBM alakadarnya sudah punya track record yang baik. Tinggal yang dibutuhkan adalah menata konsep tadi supaya menjadi Taman Baca Masyarakat yang berbeda dengan lainnya namun dibutuhkan orang banyak. Tentu saja konsep TBM tak akan lari dari visi menumbuhkan minat baca dan memberi virus-virus untuk gila baca.... gila nge-blog juga ahahihihihi :D
Sehingga saat Dinas utamanya menghelat begitu banyak lomba inovasi internal yang digelar dengan biaya yang tidak sedikit,  konsep kreatif di TBM sudah dimainkan dengan antusias. Ada yang keroncong, ada yang milih bossanova, ada yang gaya rock n roll atau malah campursari dan dangdut. Lomba pun punya dampak yang benar-benar  berdampak dan tidak sekedar seremonial.
Dimanapun menurut saya TBM diperlukan ide kreatifnya baik untuk dirinya terlebih untuk masyarakatnya. Belajar tentang industri kreatif sedikit kita kupas ulasan dari trainer nasional Yoris Sebastian untuk Film Prenjak (iki sing werno biru di klik ae, kui ono link alias tautane yo Bro. Sing ora iso Jowo, googling ae yo Dab) yang baru-baru ini menang sebagai film pendek terbaik dalam “Critic’s Week Festival Film Cannes 2016” mungkin bisa membuka mata kita soal ide kreatif memang benar-benar penting. Kenapa?
Menurut Mas Yoris, kualitas eksekutor film Indonesia sudah bagus-bagus. Bahkan dari dulu, bukan sekarang saja sebenarnya Indonesia sudah tercatat di Festival Film Cannes waktu film Tjoet Nja’ Dhien arahan sutradara Eros Djarot lolos ikuti kompetisi film panjang dalam kategori Semaine de la Critique atau Critic’s Week tahun 1989.
Sutradara Garin Nugroho juga pernah meloloskan dua filmnya dalam kategori Un Certain Regard, satu kategori film-film independen terbaik dunia. Film Daun di Atas Bantal berkompetisi tahun 1998, kemudian Serambi tahun 2006 dalam kategori yang sama.
Sutradara muda Indonesia, Edwin, juga muncul tahun 2005 di Cannes lewat film Kara, Anak Sebatang Pohon. Edwin berkompetisi dalam kategori Quinzaine des Realisateurs atau Director’s Fortnight.
Semuanya menunjukkan kualitas yang luar biasa, namun belum menang. Lalu datanglah film Prenjak tahun ini yang justru paling sederhana menurut para juri. Namun di balik kesederhaan film ini, ide ceritanya begitu berbeda. Film ini bercerita tentang Diah (Rosa Sinegar) seorang gadis di sebuah desa, yang karena putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp.10.000 perbatang, untuk dinyalakan dan digunakan mengintip vaginanya.
Ideas are cheap karena sutradara dan penulis cerita Wregas Bhanuteja (millennials kelahiran tahun 1992)  tidak perlu bayar mahal untuk ide kreatif yang dia pikirkan sendiri. Namun ide kreatif menjadi mahal untuk mereka yang tidak juga berhasil mendapatkannya. Kita jadi tersadar bahwa ide itu mahal saat Prenjak menang di Cannes dengan keserdehanaan film namun sangat kuat di ide cerita dan metafora-metafora yang tidak pernah dibayangkan juri-juri Eropa di Cannes.
Kemenangan Prenjak bukan didukung oleh kamera terbaru di dunia perfilman ataupun berbagai biaya eksukusi tinggi lainnya. Prenjak menang karena ide yang kuat dan dieksekusi dengan baik dengan peralatan yang ada saja. Eksekusi harus baik, itu tidak dipungkiri namun menurut Mas Yoris eksekusi dengan sangat maksimal sesuai dengan kapasitas kita masing-masing saja.
Film Prenjak harusnya menyadarkan kita semua bahwa kekuatan ide dan penulisan naskah yang sebenarnya ada di manusia sehingga tidak memerlukan biaya besar ini yang harusnya bisa jadi inspirasi di bisnis apapun yang kita lakukan, apalagi di ranah social entrepreneur macam Taman Baca Masyarakat (TBM). bahwa local wisdom dan local heritage kita sebenarnya punya peluang membawa kita ke tingkat dunia. Dan film Prenjak lagi-lagi membuktikan statement tersebut. Yuk TBM'ers Jogja, rebut peluang tersebut…!!!

Sabtu, 03 September 2016

>> >> MUKIDI, MUKIDI LAGI



Image result for mukidi
travel.tribunnews.com




Mana cerita Mukidi yang membuatmu terbahak? Hampir semuanya kan... Kocak, sederhana dan segar. Pagi ini setelah membaca Kisah Mukidi Naik Onta, tercenung kita dibuatnya. Ada hikmah dibalik cerita Mukidi dan yakin kalau sebenarnya Mukidi ini sosok yang religius. Berikut kisahnya :


NAIK UNTA



Mukidi lagi melancong ke Arab, seperti orang Indonesia yang lainnya. Dia juga ikut tour naik unta. Tapi unta di Arab tidak seperti unta di Indonesia, ketika Mukidi bilang, “duduk” dan unta langsung duduk.

Namun lain kejadiannya. Unta di Arab, walaupun Mukidi sudah bilang:“Duduk, sit.. sit, jongkok, diuk.”

Sang unta tetap berdiri, dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.

Pawang Unta (PU): “Bilang Assalamualaikum, baru unta duduk.”

Mukidi: “Asalamualaikum” langsung onta duduk, Mukidi naik, unta langsung berdiri lagi.

Mukidi: “Jalan.. jalan..” unta tetap diam. Dipukul pukul punggungnya, unta tetap tidak mau jalan.

PU :”Bilang Bismillah “

Mukidi : “Bismillah”

Onta jalan, Mukidi senang jalan naik unta dengan Pawang Unta berjalan di sampingnya.

Tak lama kemudian Mukidi bertanya, “Pawang. Bagaimana cara nyuruh untanya lari ya?”

PU: “Bilang aja Alhamdulilah”

Mukidi : “Alhamdulilah.” Dan unta pun berlari.

Mukidi senang sekali. Saking senangnya Mukidi bilang lagi “Alhamdulilah.” Dan si unta berlari tambah kencang, dan si Pawang Unta makin ketinggalan.

Ketika Mukidi sudah jauh si Pawang Unta baru ingat, belum memberi tahu caranya onta berhenti. Dari jauh PU berteriak: “Kalo mau berhenti bilang Innalillahi..”

Karena sudah jauh Mukidi tidak mendengar. Dan si unta terus berlari dengan kencang. Sampai akhirnya di kejauhan Mukidi melihat di depan ada jurang yang sangat dalam. Mukidi ketakutan, dan mencoba menghentikan onta: “Stop, stop, stoooop, stooop, oop, oop..!!”

Unta tetap berlari, jurang sudah terpampang di depan mata. “Mati gue!” kata Mukidi. Tahu dia akan jatuh kejurang dan mati. 

Dalam kepanikannya dia berteriak: “Innalillahi..!!” sambil memejamkan mata pasrah. Unta mendadak berhenti. Dan ketika Mukidi membuka mata. Dia melihat persis di tepi jurang. Saking senangnya tidak jadi mati, Mukidi berteriak: “Alhamdullilah!”

Religius dimananya, apa karena bilang bismillah, alhamdulillah dan innalillah. Oh noooo, bukan. Penghujung cerita membawa pesan untuk kita semua, mengendalikan diri sangatlah sulit. Apalagi saat kebahagiaan dan kesenangan bertabur kelegaan menghampiri hati kita. Tak jarang kita malah gampang lalai waspadalah waspadalah waspadalah.